Sabtu, 07 Juli 2012

Tentang Kepemimpinan





Bahwa sepasukan domba yang dipimpin seekor singa akan mengintimidasi sepasukan singa yang dipimpin domba ! pasukan domba yang dipimpin singa gagah sekali !
Sepasukan singa yang dipimpin domba yang takut itu pemimpinnya !
Bayangkan frustasinya para panglima pemberani kalau rajanya penakut !
Itu sebabnya tidak dibutuhkan pasukan domba yang besar untuk mengintimidasi pasukan singa yang besar ! kalau pemimpinnya kurang berani ! itu baku dalam ilmu kepemimpinan !
Maka siapapun yang duduk pada posisi kepimpinan ! belajarlah dari situ...

Banyak pemimpin mensyaratkan anak buahnya luar biasa sebelum dia menjadi hebat,
Tugas pemimpin itu mencapai hasil luar biasa melalui orang-orang biasa..
Pemimpin yg memberi dengan hebat dan menghukum dengan keras itu perlu! biar yang dipimpinnya tahu keindahan pada kepatuhan...

Meneladankan, berwenang untuk menganjurkan, kesegeraan tindakan,..
Pikiran baik, sikap baik dan tindakan baik, itu sifat pemimpin,
Satu-satunya tugas seorang pemimpin yg tidak bisa di delegasikan adalah membuat keputusan..

Yang tidak bisa melayani tidak bisa memimpin !
Sebagai pemimpin, mulailah dari yang mungkin untuk mencapai yang tidak mungkin, jangan berjanji yg tidak mungkin, kalau orang mengkritik berfokuslah pada kepentingan semuanya! bukan tersingungnya pribadi ! dan jangan buat orang berharap mengenai rejeki kepada pribadi kita , itu pengalihan harapan dari Tuhan kepada manusia ! itu dosa sekali !

JIKA ENGKAU INGIN MENJADI PEMIMPIN, PERHATIKANLAH INI.

Jika engkau ingin menjadi pemimpin, jangan pernah mengabaikan keharusanmu untuk
melayani bagi kesejahteraan, kebahagiaan, dan kecemerlangan mereka yang kau pimpin.

Kedudukanmu bukanlah untuk kemapanan dan kedamaianmu saja.
Hanya merasa damai dan mapanlah, jika engkau telah berhasil menjadikan mereka yang
kau pimpin hidup dalam kedamaian dan kemapanan.

Janganlah kerisauanmu hanya yang berkenaan dengan dirimu.

Engkau disebut pemimpin karena engkau menukarkan hak mu untuk merasa nyaman bagi
kenyamanan orang banyak, engkau menomor-akhirkan tidurmu bagi kedamaian tidur
mereka, dan engkau menunda istirahatmu agar yang paling kecil dari saudaramu itu -
termudahkan upayanya untuk membangun kehidupan yang layak.

Jika itu yang mengisi pikiran dan hatimu, engkau akan berpendar dengan sinar
kecintaan dari langit.

Jika hanya penyelamatan dirimu yang menjadi kegundahanmu, maka hanya kesantunan
orang lain yang menjadi pelindung sementara bagimu.

Seorang pemimpin adalah pribadi biasa yang kesungguhannya tidak biasa dalam
menjadikan dirinya pelayan bagi kebaikan hidup orang banyak.

Dia membangun keberhasilannya melalui keberhasilan orang lain.

Rencana besar bagi keberhasilan seorang pemimpin jalan keemasan terbuat dari
rencana-rencananya bagi keberhasilan setiap individu yang berada dalam
kepemimpinannya.

Banyak pribadi pada posisi kepemimpinan yang lupa bahwa mereka dianggap berhasil
hanya apabila mereka menyebabkan peningkatan kualitas pada kehidupan anggota
organisasi mereka, dan apabila mereka menyampaikan keuntungan bagi semua pemegang
kepentingan mereka.

Anda - sebagai pemimpin dengan jalan keemasan - berupaya mencapai posisi
kepemimpinan yang tertinggi bukan untuk menikmati kemudahan pada posisi itu,
melainkan untuk menggapai tingkat kewenangan yang Anda butuhkan untuk mengharuskan
ketaatan kepada nilai-nilai pelayanan atas semua anggota organisasi Anda.

Dia menjadikan dirinya seorang mahasiswa yang cemerlang pada akademi kepemimpinan
yang bernama SITUASI.

Situasi adalah komponen pembentuk sejarah.

Seorang pemimpin dengan jalan kemasan mengetahui bahwa dengan mempelajari perilaku
dari situasi, baik yang lalu maupun yang sedang dialaminya, dia akan mampu
menghindari penalti dari terulangnya kesalahan, baik dari kesalahannya sendiri mau
pun dari kesalahan orang lain.

Dengannya, dia bisa mencurahkan semua perhatian dan tenaganya bagi pelaksanaan
terbaik dari praktik-praktik kepemimpinan yang telah terbukti membesarkan kehidupan,
baik pribadi, organisasi, masyarakat, atau bangsa.

Baginya, semua keputusan yang ada dalam organisasinya adalah keputusan pribadinya.

Dari semua yang bisa didelegasikannya, dia tidak akan pernah mendelegasikan
keputusan yang harus diambilnya dari posisi kepemimpinannya.

Dia mungkin bisa mendelegasikan sebagian besar dari tugas-tugasnya. Dia juga mungkin
bisa memberdayakan bawahannya untuk membuat keputusan pada jajaran mereka, akan
tetapi, dia mengetahui bahwa,

dia tidak dapat membebaskan dirinya dari penilaian negatif atas keputusan buruk para
bawahannya.

Karena, keputusan buruk itu dibuat oleh mereka yang diputuskannya sebagai pengemban
dari sebagian kewenangannya.

Jika bawahannya salah, sebetulnya sang pemimpin telah salah memilih bawahan untuk
memutuskan atas namanya.

Dia menyadari sekali bahwa sebuah posisi kepemimpinan adalah posisi bagi keputusan
akhir, yaitu keputusan yang harus dibuatnya secara pribadi.

Dia setia kepada yang benar.

Dalam peliknya pertentangan berbagai prioritas dan kepentingan di organisasi dan di
publik yang dilayaninya, seorang pemimpin dengan jalan keemasan selalu ingat untuk
kembali kepada yang benar.

Dia menyadari bahwa semua yang sulit itu datang karena pengabaian dari hal-hal yang
baku. Dan yang sulit itu juga berperan sebagai pemaksa agar orang kembali kepada
perilaku yang benar, bagi tercapainya perbaikan dan kebaikan berikutnya.

Itulah sebabnya dia berupaya keras menjaga tindakannya sendiri untuk setia kepada
yang dituntutnya dari orang lain, karena hal itu adalah penentu tingkat hormat dari
bawahannya.

Dia mengharuskan dirinya untuk melakukan yang dikatakannya,
dan mengatakan yang dilakukannya.

Dia sangat berani dalam mendirikan yang benar
dan tidak sanggup membayangkan dirinya
melakukan yang dilarangnya atas mereka yang dipimpinnya.


Marilah kita tetap menjadi kekasih Tuhan, dengan menjadikan diri kita pemimpin yang
setia kepada yang benar, bagi diri sendiri, bagi keluarga, dan bagi sebanyak mungkin
jiwa Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar